Kamis, 19 April 2012

Berlabuh di Nusa Kambangan: Jelajah Benteng Pendem, Karang Bolong, dan Klingker



Kapal pengangkut garam itu bernama Allen. Tercatat pada 1833 ia mendistribusikan garam untuk pertama kalinya ke Karesidenan Banyumas. Garam dari Sumenep itu diangkut menuju Cilacap melewati selat sempit antara daratan Cilacap dan Nusa Kambangan. Selanjutnya pada 1836, kapal-kapal lain seperti Schelde, Aurora, dan Elisabeth membawa kopi dari Pelabuhan Cilacap menuju ke Nederland.

Pada 1847 Gubernur Jenderal J.J. Rochusen melihat nilai penting militer dari Pelabuhan Cilacap. Maka sejak itu ia menetapkan pelabuhan Cilacap sebagai pelabuhan yang digunakan untuk kepentingan militer.

Begitulah pelabuhan Cilacap tempo dulu. Bersama pelabuhan Cirebon dan Pasuruan, ia menjadi pelabuhan ekspor dan impor dari total 16 pelabuhan yang ada di Nusantara kala itu.

Meskipun resmi dibuka pada 1858, namun puncak keemasannya baru terjadi pada periode 1887-1930. Pelabuhan Cilacap menjelma menjadi satu-satunya pelabuhan di selatan Jawa yang sangat aktif. Itu disebabkan karena jalur kereta Yogyakarta-Cilacap dibuka oleh Staats Spoorwegen/SS pada 1887.

Selanjutnya grafik aktivitas di pelabuhan Cilacap terus meningkat. Berbagai komoditas seperti teh, kina, tembakau, gula, gaplek, wagon tapioka, beras, dan kopra hilir mudik dari dan ke Cilacap.

Kesibukan di pelabuhan Cilacap itu tak bisa dilepaskan dari keberadaan Pulau Nusa Kambangan. Pulau ini menjadi benteng terdepan penjaga daratan Cilacap dari ganasnya ombak laut selatan. Tanpa pulau ini mungkin pelabuhan Cilacap tak akan pernah punya cerita.

Pulau Nusa Kambangan mulai disinggahi oleh armada Inggris lewat British East India Company [EIC] sekitar 300an tahun yang lalu. Mereka menilai bahwa pulau ini sangat strategis sebagai garda terdepan penjaga daratan Cilacap. Lantas mereka mendirikan sebuah benteng kecil di sini untuk keperluan itu sekaligus menghalau bajak laut. Memang saat itu perairan Nusa Kambangan sering disambangi bajak laut Bugis.

Aktivitas EIC di Nusa Kambangan membuat Vereenigde Oostindische Compagnie [VOC] penasaran. Maka dikirimlah armada khusus pada 1739 untuk menyelidiki perairan Nusa Kambangan. Namun baru sekitar satu abad kemudian, yaitu pada 1830, pemerintah Hindia Belanda menetapkan Nusa Kambangan masuk ke dalam garnisun kecil di Pulau Jawa.

Sebagai kelanjutannya benteng tinggalan Inggris di Pulau Nusa Kambangan dirombak menjadi sebuah sistem pertahanan yang lebih kokoh dan kompleks sekitar 1833-1855. Benteng itu dikenal juga sebagai Benteng Karang Bolong

Satu catatan penting ialah bahwa Benteng Karang Bolong menjadi satu-satunya contoh sistem pertahanan pesisir tipe Tour Modèle di Indonesia dalam kondisi utuh yang mengacu pada aturan militer masa Napoleon yang dikenal sebagai era Napoleonic Style

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menambahkan satu benteng lagi di Banjoe Njapa [Benteng Klingker]. Benteng tipe martello ini hampir serupa dengan yang ada di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu. Kedua benteng di Nusa Kambangan ini dikerjakan dengan sentuhan seni. Tentunya sebagai sebuah sistem pertahanan terlalu berlebihan. Pengerjaannya ditangani oleh kontraktor swasta, sementara  pekerjanya merupakan buruh paksa yang terdiri dari narapidana. 

Kembali ke daratan Cilacap. Pada 1853 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan untuk membangun sebuah benteng besar berlanggam Eropa di Semenanjung Cilacap. Benteng yang kemudian dikenal sebagai Benteng Pendem ini merupakan tiruan dalam bentuk yang lebih kecil dari Benteng Rhijnauwen, benteng terbesar di Belanda. 

Benteng Pendem selesai dibangun pada 1880. Ia menjadi contoh penerapan sistem pertahanan New Dutch Waterline yang mengacu pada konsep New Fortification pengembangan dari maestro benteng asal Prancis, Marquis Marc René de Montalembert (1714-1800).

Saat itu benteng dilengkapi dengan 6 meriam besar ukuran 24 cm, 16 meriam perunggu ukuran 12 cm, 14 meriam kecil ukuran 8 cm, dan 4 mortar ukuran 29 cm. Peralatan tempur itu menempatkan Benteng Pendem sebagai benteng dengan peralatan tempur berat paling modern di Indonesia waktu itu. Intensitas penggunaan benteng sangat tinggi pada periode 1880-1890. Kemudian mulai meredup setelah 1890 sampai pecahnya Perang Dunia II. 

Pada Perang Dunia II beberapa bungker beton ditambahkan di dalam dan di luar benteng. Saat ini tiga bungker masih bisa dijumpai di sisi timur kompleks Pertamina. Bungker-bungker itu menjadi saksi ketika pelabuhan Cilacap diubah seketika menjadi lautan api oleh tentara Jepang.

Itulah sekilas cerita tentang Cilacap, kota kecil di pesisir selatan Jawa Tengah. Kami mengajak teman-teman untuk “berlabuh” sejenak di Nusa Kambangan. Lewat pelabuhan yang identik dengan tempat berkumpulnya orang dan komoditas dari berbagai penjuru tempat kami ingin membawa teman-teman ke masa ratusan tahun yang lalu. Masa di mana rempah-rempah, gula, teh, kopi, dan benteng menjadi tokoh utama panggung sejarah nusantara. 

Tak hanya itu, “berlabuh” kali ini juga identik dengan kegiatan alam bebas. Selain menikmati sejarah tempo dulu lewat tinggalan fisik berupa benteng di pesisir Cilacap dan Pulau Nusa Kambangan, kami juga mengajak teman-teman untuk merasakan pengalaman menginap di pantai Nusa Kambangan. 

Jadi...., tunggu apa lagi, catat jadwal keberangkatannya dan pastikan Anda bergabung bersama kami.

Berikut perkiraan acara yang bakal kita jalani bersama:

Sabtu, 19 Mei 2012
06.30 – 07.30 : Registrasi peserta
07.30 – 12.00 : Perjalanan ke Cilacap
12.00 – 13.30 : Ishoma
13.30 – 15.00 : Mari Rumuskan Strategi Bertahan [Telusur arsitekturnya  serta permainan “Pelayaran Rempah”]
15.00 – 16.00 : Kejar Momenmu [Seri berburu foto benteng]
16.00 – 16.30 : Berlabuh di Nusa Kambangan [Perjalanan menuju Pulau Nusa Kambangan]
16.30 – 17.00 : Perjalanan menuju Pantai Karang Bolong
17.00 – 18.30 : Ayo Dirikan Tendamu [pasang tenda, bersih-bersih, ishoma]
18.30 – 19.30 : Makan Yuk! [makan malam]
19.30 – 22.00 : Di Dekat Api Unggun Kita Berkumpul [tukar sapa, dongeng seputar rempah, komoditas di pelabuhan Cilacap, Cilacap tempo dulu, dan benteng-benteng]
22.00 – 05.00 : Tidur.....Zzzzzz...ZZZzzzzzz.....ZZZZZzzzzz

Minggu, 20 Mei 2012
05.00 – 07.00 : Selamat Pagi Nusa Kambangan [bangun, bersih-bersih, senam pantai]
07.00 – 08.00 : Masak dan sarapan pagi
08.00 – 09.30 : Buka Petamu [Jelajah Benteng Karang Bolong, arsitekturnya, berburu foto]
09.30 – 10.30 : Susun Puzzle [ayo cicipi peran menjadi arkeolog, temukan kepingan ceritamu lewat permainan layaknya seorang detektif]
10.30 – 12.00 : Bongkar tenda, bersih-bersih sampah, & Ishoma
12.00 – 12.30 : Perjalanan menuju Benteng Klingker
12.30 – 14.00 : Hai Klingker! [Eksplorasi Benteng Klingker, panduan sejarah benteng, berburu foto benteng]
14.00 – 14.15 : Kembali ke Teluk Penyu
14.15 – 14.45 : Mengintip Sistem Pertahanan Perang Dunia II di Semenanjung Cilacap [bungker-bungker Pertamina, berburu foto]
14.45 – ..... : Pulang ke Jogja

Fasilitas yang bakal didapetin:
1. Bis AC Jogja-Cilacap [PP]
2. Makan besar [4 kali]
3. Tiket masuk ke Teluk Penyu, Benteng Pendem, Benteng Karang Bolong
4. Penyeberangan Teluk Penyu-Nusa Kambangan [PP, termasuk asuransi]
5. Tenda + Matras [satu tenda berbagi untuk 4-5 peserta]
6. Isi ulang air minum
7. Pemandu lokal + Jaladwara
8. Buku Panduan Jaladwara
9. Cinderamata
10. Kawan baru + Pengalaman + Informasi baru :D

Fasilitas tidak termasuk:
1. Kantong tidur/sleeping bag [bagi temen-temen yang belum punya, Jaladwara bisa membantu untuk menyewakan, per hari Rp 6.000]
2. Makan pagi di hari keberangkatan.

Berhubung nanti kita akan nginep di tepi pantai maka ada beberapa hal yang perlu disiapken sebelum berangkat: 
1. Tas ransel buat naruh bekal pribadi, seperti obat-obatan pribadi, wadah makan & sendok, payung, buku catetan, kamera, lotion anti nyamuk, selimut, jaket, jas hujan/rain coat, alat tulis.
2. Pakaian ganti bagi yang pengen ganti :P [karena kita menginap semalem, jadi bawa bekal pakean secukupnya saja].
3. Makanan ringan.
4. Botol minum, karena Jaladwara menyediakan air isi ulang. Hemat uang hemat sampah...:D
5. Wadah makan dan sendok.
6. Sandal atau sepatu yang nyaman buat dipake jalan-jalan.
7. Topi bagi yang ga gitu tahan sama cuaca panas.
8. Kresek bekas untuk wadah sampah pribadi [sampah akan dipilah dan dikumpulkan bersama].

Bagi yang berminat untuk gabung, bisa mendaftarkan diri melalui:
1. Hubungi:
a. Jaim [jaimpoutz@gmail.com ; 085643040230]
b. Inu [minoritaskiri@gmail.com ; 085643311441]

2. Selanjutnya, melakukan transfer ke rekening berikut:
Bank BCA: 0373062143 [Cabang Jogja a.n Kristanti Wisnu Aji Wardani]
Bank Mandiri: 1430004313217 [Cabang Lumajang a.n Bayu Erliaji]

3. Melakukan konfirmasi ke Inu dengan cara mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi:
a. Kata kunci: BENTENGCILACAP
b. Nama Lengkap:
c. Bank Tujuan:
d. Tanggal/Bulan Transfer:
e. Jumlah Transfer:
Contohnya: BENTENGCILACAP/NAPOLEON/BCA/12MEI/355.000

4. Tanda bukti transfer harap disimpan dan ditunjukkan saat registrasi ulang.

5. Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi, namun bisa banget kalo dihibahkan kepada orang lain.

YANG PERLU DIINGET:
Pendaftaran ditutup pada 12 Mei 2012. Demi kenyamanan bersama kami hanya menyediakan 30 tiket saja.

Biaya untuk tiket:
Titik awal Yogyakarta: Rp 355.000 [kumpul di Benteng Vredeburg]
Titik awal Cilacap: Rp 265.000 [Kumpul di Benteng Pendem]

Teriring salam,
JALADWARA: Buka Mata Kenali Nusantara

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys